Varia Ternak
01 September 2008
Bantul, Bangkit dengan Peternakan dan Perikanan

Dari Rp 5 miliar dana program pengentasan kemiskinan, Rp 4,15 M diarahkan ke kambing-domba, Rp 60 juta untuk kelinci, dan Rp 750 juta untuk sapi

Dua tahun lalu, 50 detik bumi Bantul berguncang, kabupaten seluas 506,85 km2 ini luluh lantak. Tak cuma hilang nyawa, harta, dan tempat tinggal. Lumpuhnya sendi perekonomian hingga menembus bilangan bulan lamanya  menambah kepedihan warga. Saat itu terhitung 143.135 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal. Untuk rekonstruksi perumahan dibutuhkan Rp 1,7 triliun.
Gempa 2006 ini pun berpengaruh pada penurunan tingkat konsumsi protein hewani warga Bantul. Konsumsi protein hewani 2006 yang tercatat 4,98 gr/kapita/hari (target nasional 6 gr/kap/hr) merosot di 2007 menjadi 4,47  gr/kapita/hari. Menurut Dra Mursumartinah, Kepala Dinas Peternakan, Kelautan dan Perikanan (PKP) Bantul, gempa menekan berbagai segi, seperti menurunnya daya beli, macetnya usaha peternakan ? perikanan, hingga pengalihan orientasi  belanja. ?Tentu saja masyarakat mengutamakan rekonstruksi rumah, ketimbang makan ?enak?,?ungkapnya.
Kabar baiknya, angka sementara 2008 menunjukkan kenaikan, bahkan nyaris memenuhi target nasional, yaitu 5,529 g/kap/hari. Visi pembangunan Dinas PKP tertuang dalam kalimat ?Menuju terpenuhinya konsumsi protein hewani asal ternak dan ikan tahun 2010?.
Untuk mempercepat tumbuhnya perekonomian, saat itu Pemkab telah menobatkan Pertanian, Peternakan dan Perikanan menjadi leading sector rekonstruksi ekonomi, selain kerajinan dan UKM lainnya. Berbagai program diramu, disinkronkan dengan program-program kredit maupun pengembangan baik yang dicanangkan Pemkab sendiri, Pemprop, maupun Pemerintah Pusat.

Pemulihan dengan Kambing ? Domba
Di Bantul, istilah lain pengembangan ternak kambing - domba digolongkan dalam program community development (CD). Tujuannya, bukan sekadar memperbesar populasi dan produksi kambing - domba di wilayah selatan Jogjakarta ini, tapi juga menumbuhkan peternak baru, dan sumber pendapatan baru bagi banyak keluarga miskin. Pastinya, mereka juga termasuk paling merasakan dampak gempa 2006. Awalnya, CD ditujukan untuk alih profesi bagi penambang pasir liar, nelayan dan tukang becak. Dana yang disediakan Pemkab sebesar Rp 1,9 miliar, dari APBD I.
Menurut Ir Agus Riyadmadi, kasi Perumusan Rencana dan Program Dinas PKP Bantul, pertengahan 2007 lalu CD direalisasikan untuk penarik becak se-Bantul yang tergabung dalam Paguyuban Pengemudi Becak Projotamansari, sejumlah 763 orang. Setiap orang menerima paket pinjaman 5 ekor kambing atau domba yang mesti dikembalikan dalam 3 tahun.
Pertengahan tahun ini, Pemkab meluncurkan program pengentasan kemiskinan berbasis kambing-domba, dibiayai dengan anggaran program bersaing APBD provinsi 2007. Menurut Mursumartinah, dari Rp 5 miliar dana yang tersedia, Rp 4,15 M diarahkan ke kambing-domba, Rp 60 juta untuk kelinci, dan Rp 750 juta untuk sapi.
Diharapkan, program ini mampu menjangkau 1660 kepala keluarga dari total 64 ribu gakin (keluarga miskin). ?Realisasi bulan ini baru 1000 KK. Masing-masing mendapat 5 ekor kambing atau domba, sesuai pilihannya,? kata Agus.

Perikanan Pasca Gempa
Tingkat konsumsi ikan warga Bantul pada 2006 sebesar  7,90 kg/kap/th dan mampu meningkat di 2007 menjadi 8,16 kg/kap/th. Angka ini masih sangat jauh dari target nasional 26,5 kg/kap/th.
Menurut Mursumartinah, naiknya  produksi ikan dibanding tahun lalu menandakan bahwa pembudidaya ikan dan nelayan sudah bergairah lagi melanjutkan usahanya pasca gempa (juga musim ikan yang baik pada perikanan laut) meskipun masih di bawah target pertumbuhan yang ditetapkan. Penangkapan ikan di perairan umum seperti sungai, bendung dan rawa/danau 2007 sebesar  432,4 ton, dengan 34,9 ton adalah komoditas non-ikan/udang, seperti katak atau kepiting. Naik 4,37% dibanding 2006 yang 414,3 ton.
Untuk meningkatkan kemampuan tangkap nelayan, Pemkab menyalurkan bantuan alat tangkap senilai Rp 181.751.190,- didanai APBN. Selain itu, didanai APBD II 2007 Rp 3.085.559150 dilakukan perbaikan dan peningkatan fasilitas yang sebagian rusak terkena gempa di 3 Balai Benih Ikan, kawasan budidaya air tawar. Selain itu juga dipakai untuk membangun gudang peralatan tangkap nelayan, dan pembelian 1 perahu tempel.
Produksi ikan budidaya kolam pada 2007 meningkat 23,94% dibanding 2006. Menurut Mursumartinah, hal ini menunjukkan pembudidaya ikan telah pulih usahanya pasca gempa. Ia mengakui, selain bantuan pemerintah, bantuan modal dan perbaikan fasilitas oleh swasta dan LSM sangat membantu pemulihan ini.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi September 2008