Jendela
01 December 2008
Kediri, Gudangnya Ternak dan Benih Ikan

Selain menjadi penyangga utama peternakan Jawa Timur, Kediri juga menjadi barometer pembenihan nasional

Menjadi gudang ternak. Inilah andil besar Kediri bagi Provinsi Jawa Timur. Produksi peternakan kabupaten di sebelah barat Gunung Kelud ini tak sekadar dinikmati oleh penduduk lokal tapi juga penduduk di luar daerah tersebut.

Sebagai gambaran, drh. Suparmi, MM, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kehewanan Kabupaten Kediri menyebutkan, kabupaten ini setiap bulannya bisa memotong sapi potong 700 ekor dengan rincian 257 ekor untuk Kabupaten Kediri, 300 ekor untuk pasar Kotamadya Kediri dan sisanya dipasarkan ke luar daerah. Dalam produksi susu telah mencapai 33 ton/hari, 28 ton diantaranya diekspor ke luar daerah dan sisanya untuk pasar lokal. Untuk layer, produksinya bahkan merupakan yang terbesar ke dua di Jawa Timur

Layer memang menjadi salah satu komoditas peternakan unggulan di Kediri. "Populasi di sekitar Kecamatan Pare saja mencapai 8 juta ekor," kata Muhammad Fauzi, Technical Service and Sales, PT Bintang Terang Gemilang?produsen pakan unggas?. Budidaya ayam petelur ini di Kediri dilakukan baik secara tradisional, semi closed house maupun closed house dengan Pare sebagai sentranya. "Pola tradisional banyak dilakukan peternak kecil mandiri dengan populasi 1000 ? 3000 ekor. Untuk peremajaan, sebagian peternak mencampur ayam jantan dan betinanya. Intinya, supaya mereka bisa bertahan hidup," kata Choiril Anwar, Koordinator Area Kediri, PT. Sanbe Farma?produsen obat?.

Dalam hal pengembangan broiler, Kediri juga tampak sungguh-sungguh. Paling tidak ini bisa terlihat dari keberadaan hampir semua kemitraan pabrikan nasional (pakan, bibit, obat atau sarana peternakan unggas lainnya) untuk budidaya ayam pedaging di Kediri. Sebut saja PT Primatama Karya Persada, PT Sinar Sarana Sentosa, PT Malindo Feedmill, PT. Wonokoyo dll. "Broiler berkembang bagus di Kediri. Sentranya ada di Pare, Kepung, Puncu, Wates, Keras, Mojo," kata Agung Bani Suparno, Technical Sales Representatif, PT. Medion?produsen obat hewan?.

Untuk pemasaran produk peternakan Kediri antara lain ke Surabaya, Jakarta bahkan sampai luar pulau. "Pemasaran bukan kendala. Untuk layer, daerah produksi Pare dan sekitarnya, pasarnya ke Surabaya. Sedangkan Wates, Kandat dan Sambi ke Jakarta dan Kalimantan lewat pengepul dari Blitar," kata Fauzi.

Tak beda jauh dengan layer, daya serap broiler juga bagus. "Kalau luar daerah biasanya pasarnya satu kiloan, sedangkan pasar Kediri membutuhkan broiler minimal 2 kg/ ekor. Bobot ini yang daya serap pasarnya tinggi meski ayam kecil bobot 0,7 ? 0,8 kg/ ekor juga terserap," imbuh Fauzi. Untuk pemasaran sapi potong ke Jawa Barat. Sedangkan produksi susu memasok perusahaan pengolah susu Nestle. Selain itu juga dipasarkan ke Jawa Tengah dan Jawa Barat melalui pengepul yang ada di Blitar.

Kendala Dana

Walau demikian pengembangan peternakan di Kediri juga tak lepas dari kendala klasik permodalan. Karena itu Dinas Kehewanan menjalin kerjasama dengan perbankan untuk pengadaan kredit bagi peternak. "Pemerintah Kabupaten Kediri bekerjasama dengan beberapa bank antara lain dengan Bank Syariah Mandiri untuk pengembangan sapi perah di Wates dengan sistem bagi hasil, Bank Jatim untuk sapi potong dengan bunga 6% per tahun dan Bank Daerah Kabupaten Kediri untuk usaha UMKM peternakan-perikanan dengan alokasi dananya Rp 1 miliar dan bunga 6% per tahun," jelas Suparmi.

Suparmi kembali menambahkan, dalam pengembangan peternakan di Kediri untuk lima tahun ke depan, pihaknya akan memfokuskan pada upaya peningkatan produksi peternakan, penerapan teknologi tepat guna dan pemasaran. Pengembangan ternak potong dan sapi perah akan didukung dengan penyebaran dan pengembangan ternak, intensifikasi IB (Inseminasi Buatan) serta pelayanan kesehatan hewan dan reproduksi. "Hal ini disamping untuk mempertahankan posisi Kediri sebagi gudang ternak, juga merupakan langkah persiapan bagi Kediri dalam mendukung program swasembada daging 2010," kata Suparmi.

Alokasi dana untuk program penyebaran dan pengembangan ternak mencapai Rp 1,5 miliar, intensifikasi IB Rp 100 juta, pelayanan kesehatan dan reproduksi Rp 405 juta. Sumber dananya berasal dari APBD Kabupaten, Provinsi dan APBN.

Dalam hal pengembangan teknologi tepat guna, dinas memfasilitasi Kelompok Tani Gangsar Makmur yang dikenal dengan nama Primatani yang mengintegrasikan pertanian tanaman pangan dan peternakan dalam satu lingkup kawasan. "Program ini merupakan inisiatif kelompok yang kita fasilitasi dengan pinjaman ternak. Usahanya berupa perbibitan sapi potong dan kambing yang dilengkapi dengan sarana pembuatan pakan dan pengolahan kompos," jelas Suparmi.

Menggeliatnya usaha peternakan di Kediri tak pelak mengundang swasta untuk terlibat. Salah satu diantaranya PT Vitindo yang bergerak dalam pengolahan susu. "Pabrik ini bisa memproduksi 600 liter/hari dan pabrik lain yang budidayanya di Kabupaten tetapi pengolahannya di kotamadya bisa memproduksi 2000 liter/hari," ujar Suparmi.

Barometer Pembenihan Nasional

Tak kalah dengan peternakan, usaha perikanan di Kediri juga berkembang pesat. "Faktor utamanya karena daerah ini dianugerahi sumberdaya air yang melimpah dan tentu saja didukung dengan semangat dan kemauan kuat dari masyarakat setempat," kata Sujung Ardi Sumitro, Technical Service and Sales, PT. Suri Tani Pemuka?produsen pakan ikan?.

Dalam hal ini Kediri menitikberatkan pada usaha pembenihan baik untuk ikan konsumsi maupun ikan hias. Prestasinya cukup membanggakan. Pare yang menjadi sentra layer ternyata juga merupakan barometer pembenihan ikan lele tingkat nasional. "Meski wilayahnya tidak terlalu besar, tetapi disinilah produksi bibit lele terbesar

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Desember 2008