Varia Ternak
01 October 2007
Peternakan Bali: Swasembada Daging dan Telur

Data Dinas Peternakan memperlihatkan, tiga tahun terakhir provinsi Bali mampu penuhi kebutuhan konsumsi daging dan telur penduduknya secara mandiri

Julukan sebagai Pulau Dewata memang pantas disandang Pulau Bali. Ia tak hanya dianugerahi keindahan alam semata, tetapi juga menyimpan berjuta potensi agribisnis, termasuk di dalamnya sektor peternakan. Ini terlihat dari keberhasilan provinsi Bali dalam memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakatnya, terutama untuk kebutuhan daging dan telur. ?Provinsi Bali sudah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan protein hewani yang bersumber dari usaha peternakan lokal,? ujar Ir Ida Bagus Raka, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali. Data Dinas Peternakan memperlihatkan, selama tiga tahun terakhir, provinsi Bali berhasil memenuhi kebutuhan konsumsi daging dan telur penduduknyanya dari hasil ternak sendiri.
Pada 2006 misalnya, Bali berhasil memproduksi daging sebesar 101.862,23 ton dengan tingkat kebutuhan masyarakat yang hanya sebesar 97.159,81 ton. Itu artinya terjadi surplus daging lebih dari 4.700 ton. Begitupun untuk penyediaan telur. Sepanjang 2006 Bali berhasil memproduksi telur sebesar 37.409,88 ton. Padahal konsumsi telur masyarakat Bali hanya sebesar 34.121,44 ton. Menurut Suryawan Dwi Mulyanto, Sekretaris Paguyuban Peternak Ayam se-Bali (PPAB), kelebihan dari telur-telur tersebut biasanya dipasarkan ke daerah NTB dan Jatim.
Sayangnya, kemampuan Bali memenuhi kebutuhan daging dan telur masyarakatnya ini tidak diikuti oleh kemampuan Bali untuk memenuhi kebutuhan susu. ?Kita masih mendatangkan susu dari daerah lain sebesar 477,92 ton,? ujar Raka. Hal ini untuk menutupi kebutuhan konsumsi susu masyarakat yang mencapai 533,85 ton pada 2006 lalu.
Meski terjadi peningkatan produksi hasil ternak selama 5 tahun terakhir, ternyata belum mampu meningkatkan kontribusi subsektor peternakan Bali terhadap peternakan nasional. Bahkan, Raka menyebutkan, selama 5 tahun terakhir kontribusi peternakan Bali justru mengalami penurunan rata-rata sebesar 0,35%. Pada 2006 misalnya, kontribusi peternakan di provinsi Bali hanya menyumbang 3,88% dari total peternakan nasional. Angka ini  telah mengalami penurunan sebesar 4,20% jika dibandingkan pada tahun sebelumnya.
Begitupun untuk serapan tenaga kerja di sektor peternakan. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, telah terjadi penurunan rata-rata sebesar 0,19% per-tahun. ?Pada 2006, penyerapan tenaga kerja sebanyak 200.280 rumah tangga usaha peternakan dengan jumlah peternak sebanyak 346.224 orang,? terang Raka.

Sapi Bali, Unggulan yang Memprihatinkan
Berbicara mengenai peternakan Bali, tentu tak akan lepas dari membicarakan sapi Bali. Pasalnya, komoditas peternakan yang satu ini masih menjadi andalan bagi sektor peternakan di provinsi tersebut. ?Tak kurang dari 75.000 ekor sapi bali dikirim ke Jakarta tiap tahunnya,? ujar Raka.
Sayangnya, meski menjadi sektor unggulan, produksi daging sapi ini justru cenderung mengalami penurunan, terutama sejak 5 tahun terakhir. Data Dinas Peternakan menyebutkan, produksi daging sapi di Bali pada 2006 sebesar 6.183,97 ton. Angka produksi tersebut lebih kecil dari produksi tahun sebelumnya yang mencapai 6.896,87 ton dan bahkan jauh lebih kecil dari produksi tahun 2002 yang mencapai 7.499,82 ton. Kondisi ini jelas memprihatinkan.

Potensi Besar Perunggasan
Berhasilnya provinsi Bali dalam memenuhi kebutuhan daging dan telur tak lepas dari peran para stakeholders perunggasan yang ada di Pulau Dewata. Pasalnya, dari total produksi daging di Bali yang mencapai 101.862,23 ton, sebanyak 21.528,19 ton merupakan daging ayam ras. ?Untuk daging ayam, provinsi Bali sudah bisa memenuhi kebutuhannya sendiri,? ujar Suryawan mantap. Menurutnya, dalam sehari tak kurang dari 100 ribu ekor ayam ras dipasok oleh peternak untuk memenuhi kebutuhan provinsi ini. Sentra-sentra peternakan unggas, ada di Tabanan, Bangli, Karangasem dan Jembrana.
Sedangkan untuk ketersediaan bibit ayam (DOC), para peternak di Bali tak perlu khawatir. Menurut Suryawan, ketersediaan bibit di Bali sudah mencukupi karena ditopang oleh dua breeding farm yang ada di provinsi tersebut. ?Bahkan produksi DOC dari Bali ini juga untuk mensuplai Lombok,? ujarnya. Meski demikian, Suryawan juga mengakui masih ada DOC yang masuk dari luar, terutama untuk peternak yang menjalin kemitraan dengan perusahaan yang tidak memiliki breeding farm di Bali. ?Jumlahnya tak sampai 10%,? katanya.
Secara potensi, perunggasan di Pulau Bali mempunyai peluang besar untuk di kembangkan. Drh Catur Budi Hascaryo, Branch Manager PT Romindo Primavetcom mengatakan, tingginya tingkat efisiensi peternakan unggas dan tenaga peternak yang terampil menjadi modal yang kuat untuk mengembangkan potensi perunggasan di Bali ini. ?Bahkan Bali bisa menjadi sentral produsen daging ayam dan telur untuk mensuplai wilayah NTB dan NTT,? ujarnya penuh keyakinan.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Oktober 2007