Varia Ternak
01 February 2008
Sukabumi: Surga Investasi

Tiga kunci sukses Sukabumi: potensi alam, pasar dan dukungan kebijakan

Gurilap. Gunung Rimba Laut Pantai. Sebuah simbol kekayaan alam yang lekat dengan kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Karenanya, tak mengherankan kabupaten yang memiliki luasan wilayah terbesar se-Jawa dan Bali ini (420 ribu hektar) mantap memegang agribisnis sebagai sektor unggulan. Tak hanya pertanian dalam arti tanaman, potensi ternak yang begitu besar tidak luput dari pengamatan pemerintah daerah Sukabumi untuk difokuskan sebagai obyek pengembangan.
Alhasil, pada 2006, hampir semua komoditas ternak Sukabumi masuk dalam rangking 10 besar jumlah populasi tertinggi selingkup Jawa Barat. Unggas misalnya. Populasi broiler (5,6 juta ekor) menempati rangking  ke ? 3 diantara 25 kabupaten dan kota yang ada di provinsi ini. Layer di posisi ke-2 (1,7 juta ekor) dan ayam buras ada di urutan ke-7 (1,6 juta). Tak hanya unggas, ruminansia besar-kecil juga memiliki potensi besar di wilayah ini. Masih dalam rangking populasi, dengan 4100 ekor sapi perah, Sukabumi menempati posisi ke-6, sapi potong di urutan ke -10 (14 ribu ekor), kerbau di urutan ke-6 (11 ribu), kambing (55 ribu) di urutan ke 9 dan domba (391 ribu) di posisi ke-4.
 
Penyangga Jakarta
Alam, bisa dikatakan hanya salah satu faktor penunjang. Di luar itu, geografis Sukabumi yang terbilang dekat dengan Ibukota menjadikan kabupaten yang dipimpin Sukma Wijaya ini sebagai daerah tumpu penyangga kebutuhan protein hewani Jakarta dan sekitarnya, Bogor, Tangerang, Depok, Bekasi. ?Setidaknya 15 juta penduduk Jabodetabek membutuhkan konsumsi protein hewani setiap harinya,? ungkap Asep Sugiyanto, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi kepada TROBOS. Demi memenuhi deman yang begitu besar, sekurang-kurangnya 120 ribu ekor  broiler ?keluar? dari Sukabumi, mengalir ke Jakarta dan sekitarnya. 
Jutaan unggas yang dibudidayakan di Sukabumi kebanyakan menganut sistem kemitraan, digandeng perusahaan pakan atau bibit (DOC). Dalam catatan Dinas Peternakan Sukabumi terdapat lebih dari 50 perusahaan yang memiliki variasi garapan ? farm, breeding, marketing ? menjalankan bisnis usahanya di kabupaten yang punya batas alam Gunung Salak dan Gunung Gede ini. Sebagian diantaranya, perusahaan-perusahaan perunggasan papan atas negeri ini. Sebut saja PT Charoen Pokphand Indonesia, PT Sierad Produce, PT Japfa Comfeed Indonesia, PT Galur Palasari Cobbindo, PT Cipendawa, PT Wonokoyo Jaya Corporindo, PT Sinta Prima Feedmill, PT Patriot Jaya Abadi, , Intan Jaya Abadi, , PT Super Unggas Jaya, dan lainnya.
Tak kalah dengan produsen bibit dan pakan, bejibun obat hewan dari berbagai perusahaan turut pula mendukung Sukabumi sebagai salah satu sentra unggas ? broiler dan layer ? di Jawa Barat. Nanan Iskandar, Senior Account Executive PT Kalbe Farma, mengatakan Sukabumi adalah salah satu pasar yang cukup menguntungkan. ?Kepemilikan tiap owner biasanya besar sehingga efisiensi tinggi,? komentarnya mengulas sebab. Senada dengan Nanan, Agung Priyo Sambodo SPt dari PT Sinta Prima Feedmill berujar tak jauh beda. Kata pria yang menjabat Sales Manager Pakan Unggas ini, Sukabumi selalu menjadi target pemasaran pakan perusahaan tempatnya bekerja. Diterangkannya, ?Sukabumi memiliki potensi yang cukup besar, dekat dengan pabrik, dan peternaknya sudah minded ke mutu?.
Di sisi lain, kebijakan Perda no 4/2007 DKI Jakarta mengenai aturan yang memperketat unggas hidup masuk Jakarta, imbasnya sampai juga ke Sukabumi. Mencermati hal ini, Dinas Peternakan Sukabumi tidak tinggal diam. Kata Asep, ?Kami akan membangun RPA (Rumah Potong Ayam-red)?. Diterangkannya, lahan seluas 5 ha telah disiapkan untuk RPA tersebut. Dengan kapasitas pemotongan yang nantinya diperkirakan 10 ribu ekor per hari, dana sebanyak kurang lebih Rp 3 miliar telah disiapkan untuk membangun sarana prasarana. Di singgung perihal waktu pengoperasian, Asep yang saat berbincang dengan TROBOS ditemani beberapa stafnya mengatakan, dalam rencana yang telah dibuat, 2008 ini RPA tersebut sudah beroperasi.

Kembangkan Sapi Perah
Jika potensi besar unggas Sukabumi dapat ditemukan di bagian tengah wilayah ini, maka mencermati ke sebelah utara kabupaten ini, terdapatlah ribuan sapi perah tersebar. Karakter klimat yang cukup sejuk dengan rataan suhu 18 - 290C dan curah hujan antara 2000 - 4000 mm menjadikan ternak perah kondusif untuk dipelihara dan dikembangkan. Kata Asep, saat ini terdapat kurang lebih 5000 ekor sapi perah yang berada dalam pemeliharaan peternak Sukabumi. Tercatat, 2007 produksinya lebih dari 9 juta kg susu yang sebagiannya dipasarkan ke Industri Pengolahan Susu (IPS). Salah satunya yang ada di Sukabumi adalah PT Indolacto, Jakarta ke PT Frisian Flag Indonesia, dan PT Indomilk.
Tetapi, Asep menyayangkan, potensi belum mampu dikelola dengan baik oleh para peternak. ?Produksi susu rata ? rata hanya 10 lt/hari/ekor. Padahal potensinya bisa mencapai 25-30 lt,? Asep menyayangkan. Ditambah lagi, skala kepemilikan sejauh ini baru 2-3 ekor. Sehingga tingkat efisiensinya masih rendah.
Ke depan, Pemda Sukabumi bertekad meningkatkan skala kepemilikan sapi di petani minimal 10 ekor/orang. Dengan asumsi harga sapi Rp 10 juta/ekor, maka dibutuhkan dana sekitar Rp 10 M untuk menambah 1000 ekor sapi hingga 2011. ?Tentu angka ini belum termasuk alokasi untuk sarana dan prasarana lainnya, jadi swasta yang akan menanamkan investasi akan dibantu,? terang Asep. 

Baca Selengkapnya di Majalah TROBOS edisi 101/Februari 2008